PERILAKU KONSUMEN
PENGERTIAN
Perilaku konsumen :
Adalah tingkah laku dari konsumen, dimana mereka dapat mengilustrasikan pencarian untuk membeli, menggunakan, mengevaluasi dan memperbaiki suatu produk dan jasa mereka. Focus dari perilaku konsumen adalah bagaimana individu membuat keputusan untuk menggunakan sumber daya mereka yang telah tersedia untuk mengkonsumsi suatu barang.
Menurut para ahli:
1. James F Engel
Perilaku konsumen di definisikan tindak-tindakan individu secara langsung terlibata dalam usaha memperoleh dan menggunakan barang-barang jasa ekonomi termasuk proses pengambilan kepustusan yang mendahuli dan menentukan tindakan-tindakan tersebut (1988:8)
2. David L Loundon
Perilaku konsumen dapat diDefinisikan sebagai proses pengambilan keputusan dan aktivitas individu secara fisik yang dilibatkan dalam mengevaluasi, memperoleh, menggunakan atau dapat mempergunakan barang-barang atau jasa (1984:6)
3. Gerald Zaltman
Perilaku konsumen adalah tindakan-tindakan, proses dan hubungan sosial yang di lakukan oleh individu, kelompok dan organisasi dan mendapatkan, menggunakan suatu produk atau lainnya sebagai sutu akibat dari pengalaman dengan produk, pelayanan dan dumber-sumber lainya. (1979:6)
Mempertahankan konsumen adalah bagaimana mempertahankan supaya konsumen tetap loyal dengan satu perusahaan dibandingkan dengan perusahaan lain, hamper dalam semua situasi bisnis, lebih mahal untuk mencari pelanggan baru dibandingkan mempertahankan yang sudah ada. Kepuasan pelanggan adalah persepsi individu dari performa produk atau jasa dalam hubungannya dengan harapan-harapan.
Dua wujud konsumen
1. Personal Consumer : konsumen ini membeli atau menggunakan barang atau jasa untuk penggunaannya sendiri.
2. Organizational Consumer : konsumen ini membeli atau menggunakan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan dan menjalankan organisasi tersebut.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI:
Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan membeli:
a. Kebudayaan
Kebudayaan ini sifatnya sangat luas, dan menyangkut segala aspek kehidupan manusia. Kebudayaan adalah simbul dan fakta yang kompleks, yang diciptakan oleh manusia, diturunkan dari generasi ke generasi sebagai penentu dan pengatur tingkah laku manusia dalam masyarakat yang ada.
b. Kelas sosial
Pembagian masyarakat ke dalam golongan/ kelompok berdasarkan pertimbangan tertentu, misal tingkat pendapatan, macam perumahan, dan lokasi tempat tinggal
c. Kelompok referensi kecil
Kelompok ‘kecil’ di sekitar individu yang menjadi rujukan bagaimana seseorang harus bersikap dan bertingkah laku, termasuk dalam tingkah laku pembelian, misal kelompok keagamaan, kelompok kerja, kelompok pertemanan, dll
d. Keluarga
lingkungan inti dimana seseorang hidup dan berkembang, terdiri dari ayah, ibu dan anak. Dalam keluarga perlu dicermati pola perilaku pembelian yang menyangkut:
• Siapa yang mempengaruhi keputusan untuk membeli.
• Siapa yang membuat keputusan untuk membeli.
• Siapa yang melakukan pembelian.
• Siapa pemakai produknya.
e. Pengalaman
Berbagai informasi sebelumnya yang diperoleh seseorang yang akan mempengaruhi perilaku selanjutnya
f. Kepribadian
Kepribadian dapat didefinisikan sebagai pola sifat individu yang dapat menentukan tanggapan untuk beringkah laku
g. Sikap dan kepercayaan
Sikap adalah suatu kecenderungan yang dipelajari untuk bereaksi terhadap penawaran produk dalam masalah yang baik ataupun kurang baik secara konsisten. Kepercayaan adalah keyakinan seseorang terhadap nilai-nilai tertentu yang akan mempengaruhi perilakunya
h. Konsep diri
Konsep diri merupakan cara bagi seseorang untuk melihat dirinya sendiri, dan pada saat yang sama ia mempunyai gambaran tentang diri orang lain.
KESIMPULAN
Dari beberapa Definisi tersebut di atas maka dapat di tarik suatu kesimpulan bahwa perilaku konsumen adalah tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu, kelompok, atau organisasi yang berhubungan dengan proses pengambilan keputusan dalam mendapatkan, menggunakan barang-barang atau jasa ekonomi yang dapat di pengaruhi lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
http://organisasi.org/perilaku-konsumen-ringkasan-rangkuman-resume-mata-kuliah-ekonomi-manajemen
http://www.tugaskuliah.info/2010/01/makalah-perilaku-konsumen-dalam-ilmu.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Perilaku_konsumen
Jumat, 15 Oktober 2010
Rabu, 26 Mei 2010
JUAL BELI MANUSIA
MTV End Exploitation and Trafficking (EXIT) mengambil inisiatif nasional untuk memerangi perdagangan manusia (human trafficking) melalui serangkaian konser dan program televisi.
MTV EXIT Live in Indonesia akan memulai konser kehlingnya di Pontianak pada 2 Mei 2010 dengan sebuah pertunjukan konser musik akbar dan gratis yang menampilkan artis-artis papan atas Indonesia. Konser ini akan terus berlanjut secara gratis di Surabaya, Makassar, Medan dan Jakarta.
MTV EXIT diselenggarakan oleh MTV Europe Foundation bekerja sama dengan USAID (U.S. Agency for International Development), AusAID (the Australian Governments Agency for International Development), dan Global TV.Konser tersebut mengajarkan anak-anak muda tentang bahaya perdagangan manusia dengan menyediakan berbagai informasi penting dan cara untuk melindungi diri dari eksploitasi.
Rekaman konser akan digunakan untuk memproduksi serangkaian program televisi yang akan ditayangkan secara nasional.MTV EXIT telah menyelenggarakan 17 konser di seluruh Asia selama 2 tahun terakhir, termasuk di Thailand, Laos, Kamboja, Nepal, Taiwan, Filipina, dan Vietnam.Perincian tambahan konser di Indonesia akan diumumkan segera.
MTV EXIT Live in Indonesia akan memulai konser kehlingnya di Pontianak pada 2 Mei 2010 dengan sebuah pertunjukan konser musik akbar dan gratis yang menampilkan artis-artis papan atas Indonesia. Konser ini akan terus berlanjut secara gratis di Surabaya, Makassar, Medan dan Jakarta.
MTV EXIT diselenggarakan oleh MTV Europe Foundation bekerja sama dengan USAID (U.S. Agency for International Development), AusAID (the Australian Governments Agency for International Development), dan Global TV.Konser tersebut mengajarkan anak-anak muda tentang bahaya perdagangan manusia dengan menyediakan berbagai informasi penting dan cara untuk melindungi diri dari eksploitasi.
Rekaman konser akan digunakan untuk memproduksi serangkaian program televisi yang akan ditayangkan secara nasional.MTV EXIT telah menyelenggarakan 17 konser di seluruh Asia selama 2 tahun terakhir, termasuk di Thailand, Laos, Kamboja, Nepal, Taiwan, Filipina, dan Vietnam.Perincian tambahan konser di Indonesia akan diumumkan segera.
Valentine Day Telah Menjadi Lifestyle Anak Muda Indonesia.
Salah kah saya menulis judul valentines days seperti ini? Jika salah ya mohon di maafkan saja yah karena lagi uji coba juga untuk indeks blog lifestyle yang sedang bermasalah dengan pencarian keyword tertentu. Masuk pada topik nya saja tentang valentine atau bahasa indonesia nya hari kasih sayang untuk semua mahluk hidup yang ada di bumi ini, jadi bukan hanya kepada manusia saja namun terhadap binatang dan tumbuhan pun perlu kasih sayang. Postingan ini bukan memberikan informasi tentang perayaan valentine day namun sebagai ajang berbagi anak muda yang kebetulan saja membaca postingan saya ini.
Hari kasih sayang atau hari valentine adalah sebuah hari bagi para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya di Dunia Barat, menurut sumber yang saya baca valentines day awal mulanya dari hari raya Katolik Roma dan dibuat sebuah diskusi oleh valentinus. Hari kasih sayang ini akhirnya dipakai untuk saling bertukar cendramata yang mempunyai simbol gambar hati yang biasa di dampingi oleh dewa apa dewi cupid gitu yah.
Nah kebiasaan orang barat ini lambat laun telah menjadi lifestyle on the net di benua nya bahkan bisa di bilang menjalar keseluruh dunia bagaikan virus conficker yang sulit di obati. Menurut survey setiap tahunnya ada sekitar milyaran kartu valentine day beredar dan menyebar dimana-mana, bahkan di indonesia anak muda tak akan melewati momen valentine ini bersama pasangan nya masing-masing.
Hmm jika kita lihat dari sejarah lahir nya hari valentine ini bisa kita ambil kesimpulan bahwa ini merupakah hidup gaya ala barat dan di tiru oleh seluruh dunia bahkan indonesia yang berada di daerah timur, saya ingin bertanya saja khususnya bagi para blogger muslim indonesia(mohon maaf untuk yang beragam lain bukan maksud untuk menentang), apakah fenomena valentine day yang telah menjadi lifestyle anak muda indonesia di perbolehkan dalam ajaran islam?
Hari kasih sayang atau hari valentine adalah sebuah hari bagi para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya di Dunia Barat, menurut sumber yang saya baca valentines day awal mulanya dari hari raya Katolik Roma dan dibuat sebuah diskusi oleh valentinus. Hari kasih sayang ini akhirnya dipakai untuk saling bertukar cendramata yang mempunyai simbol gambar hati yang biasa di dampingi oleh dewa apa dewi cupid gitu yah.
Nah kebiasaan orang barat ini lambat laun telah menjadi lifestyle on the net di benua nya bahkan bisa di bilang menjalar keseluruh dunia bagaikan virus conficker yang sulit di obati. Menurut survey setiap tahunnya ada sekitar milyaran kartu valentine day beredar dan menyebar dimana-mana, bahkan di indonesia anak muda tak akan melewati momen valentine ini bersama pasangan nya masing-masing.
Hmm jika kita lihat dari sejarah lahir nya hari valentine ini bisa kita ambil kesimpulan bahwa ini merupakah hidup gaya ala barat dan di tiru oleh seluruh dunia bahkan indonesia yang berada di daerah timur, saya ingin bertanya saja khususnya bagi para blogger muslim indonesia(mohon maaf untuk yang beragam lain bukan maksud untuk menentang), apakah fenomena valentine day yang telah menjadi lifestyle anak muda indonesia di perbolehkan dalam ajaran islam?
PENGARUH TELEVISI dan PERUBAHAN PERILAKU
Dewasa ini, arus globalisasi membawa pengaruh signifikan terhadap perubahan global kehidupan social culture kemasyarakatan. Seiring dengan perkembangan teknologi yang mampu menggabungkan unsur informasi dan komunikasi sehingga menjadi model interaksi sosial masyarakat modern. Tak dapat dihindari perubahan yang sangat cepat, dunia berada dalam situasi dan kondisi kehidupan antar bangsa dan negara tanpa batas. Media adalah power hegemoni masyarakat modern dalam mengubah tatatan struktur sosial budaya, politik, ekonomi dan aspek kehidupan lainnya. Media merupakan alat yang digunakan masyarakat kapitalis dalam memasarkan produk budaya dan menciptakan gaya hidup materialis, pragmatis, hedonis dan konsumtif. Meskipun disisi lain media membawa pengaruh positif dalam menggali informasi pelbagai gagasan pemikiran manusia yang dapat menunjang pembentukan masyarakat kritis.
Beragam bentuk media, seperti televisi, radio, internet, surat kabar dan lain sebagainya digunakan sebagai sarana informasi komunikasi masyarakat modern. Televisi adalah media paling utama yang dapat diakses, dinikmati, dan mudah terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat serta senantiasa menjadi populer di belahan dunia berkembang. Televisi adalah bagian dari “prakondisi dan konstruksi selektif pengetahuan sosial, pembayangan sosial, yang digunakan untuk memersepsi ‘dunia-dunia’,’realitas’ kehidupan orang lain, dan secara imajiner merekonstruksi hidup kita dan mereka menjadi semacam ‘keseluruhan dunia’ (‘worl of the whole’) yang masuk akal bagi kita” (Hall dalam Chris Barker, 2005 : 341).
Televisi perlu dipahami secara kultural dan ekonomi dalam hal teks-teks (program) dan pola-pola maknanya, relasi antara teks dan pemirsa, politik ekonomi (komoditas industri). Oleh karena itu perlu adanya pendekatan multiperspektif untuk memahami televisi yang telah memproduksi teks budaya dan membawa pengaruh signifikan terhadap life style masyarakat kontemporer, baik yang bersifat positif maupun negatif.
Televisi sebagai Teks Budaya
Era globalisasi telah membawa budaya melintasi ruang dan waktu, kita tidak hanya menjumpai budaya dalam ruang dan waktu yang teritualkan melainkan bisa juga dengan melalui layar televisi. Beragam teks-teks budaya (program) yang disajikan televisi dengan membawa pesan dan makna-makna kultural. Belum ada media massa yang dapat menandingi televisi dalam besarnya skala volume teks budaya yang diproduksi dengan jumlah penonton yang sangat besar pula. Televisi telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat dunia untuk mengakses informasi dan sarana hiburan, khususnya bagi negara-negara berkembang karena mudah terjangkau oleh selurus lapisan masyarakatnya
Tanpa disadari, televisi telah menjadi ‘tuhan’ sekaligus ‘hantu’ masyarakat kontemporer. Sikap ketergantungan dan senantiasa mengikuti pola-pola trend atau gaya hidup yang diproduksi televisi melalui sajian teks-teks budayanya (program) adalah wujud kepatuhan dan ketundukan manusia terhadap produk budaya yang diciptakannya sendiri. Dan menjadi hantu masyarakat karena beragam teks budaya justru membawa ketakutan, tindakan kriminalitas dan anarkis.
Televisi telah membawa pesan dan pola-pola makna kultural kehidupan masyarakat kontemporer yang serba boleh dan menjadikan opini publik sebagai prinsip dasar dalam menentukan kebenaran dan kebaikan perilaku atau tindakan manusia. Contoh, kasus Goyang Ngebor Inul, film buruan cium gue, smackdown, gosip dan sinetron-sinetron remaja.
Pada mulanya terjadi kontroversial atas goyang ngebor inul di ruang publik. Sebagai barisan kaum relegius, para ulama menyatakan sikap dan kecaman keras terhadap aksi erotis goyang inul karena dapat membangkitkan nafsu birahi manusia tanpa terkendali dengan benar dan baik. Disisi lain, sebagian kaum entertainment yang diwakili oleh artis sebagai barisan yang membela tindakan aksi goyang inul. Menurut sebagian besar kalangan artis menyatakan bahwa aksi ngebor inul adalah wujud ekspresi seni yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran dan kebajikan. Begitu juga dengan kasus kekerasan anak yang lahir dari budaya imitasi terhadap tayangan smackdown, penayangan film-film mistis, khayalan dan mitologi animisme-dinamisme menjadi teks-teks budaya yang mengandung makna-makna kultural yang akan membentuk pola pikir dan sikap tidak kritis, memandulkan alam pikir untuk menangkap dan merasakan kehadiran Ilahi, kebenaran dan nilai-nilai kebajikan. Belum lagi, tayangan infotaiment yang menyajikan gosip rumah tangga orang, mengumbar atau mempublikasikan kondisi rumah tangga seseorang yang menembus batas ruang privasi, tentu akan semakin memprovokasi ruang konflik/ketegangan sosial dan psikologis, membuka aib seseorang, bahkan bisa menimbulkan perilaku fitnah
Contoh-contoh tayangan program televisi di atas, awalnya terjadi kontroversial dan mengundang berbagai pihak baik ulama, akademisi, birokrat, aktivis gerakan dan lain sebagainya untuk memberikan penilaian terhadap tayangan tersebut. Namun lambat laun seiring dengan perjalanan waktu, aksi erotis goyang inul dan infotainment mengenai gosip rumah tangga orang menjadi sesuatu yang biasa dan semakin menjamur dalam program tayangan pertelevisian di Indonesia, bahkan dinikmati dan digemari sebagian besar masyarakat terutama kalangan remaja. Dari hal di atas, kita dapat melihat bahwa terjadi dialektika antara teks suci dan teks budaya, dimana teks suci mengandung pesan dan makna absolutisme etika dan teks-teks budaya dilayar televisi adalah keserbabolehan dan relativisme etika.
Kehidupan masyarakat modern yang serba bebas (keserbabolehan), relativitas nilai menjadi pandangan atau pedomannya. Kebenaran sejati (etika dan agama) menjadi tergantikan perannya oleh perkembangan sains dan teknologi modern dalam memandang dan memecahkan realitas kehidupan. Disatu sisi teknologi modern menyimpan potensi menghancurkan derajat manusia (dehumanisasi), manusia telah menjadi budak oleh ciptaannya sendiri, meskipun disisi lainnya produk teknologi modern memberikan kemudahan mencari ilmu dan menggali informasi pelbagai pemikiran manusia untuk membangun peradaban dan kehidupan manusia menuju masyarakat kritis dan inklusif.
Sesungguhnya ada kecenderungan manusia modern merasa kesepian dalam keramaian, merasa terasing dengan kerabatnya sendiri, terpenjara oleh dunia serba bebas yang sesungguhnya memberikan kenikmatan semu, terbelenggu dan menjadi budak oleh ciptaannya sendiri. Televisi telah membatasi ruang dan waktu anak-anak sejak usia dini untuk berinteraksi sosial.
Relasi Teks Budaya dan Pemirsa
Kecerdasan pemirsa untuk menafsirkan pesan dan makna teks-teks kultural sangat menentukan pilihan sadarnya untuk mengambil sikap dan perilakunya terhadap realitas kehidupan. Beragam informasi dan hiburan sebagai bentuk produk teks-teks budaya akan tersimpan dalam memori pengetahuan dalam alam pikir manusia untuk dijadikan bahan refleksi diri untuk menentukan pilihan model budaya yang akan menjadi gaya hidupnya.
Secara behavioral, sebagian besar kecenderungan pemirsa melakukan tindakan imitasi terhadap teks budaya yang diproduksi oleh televisi. Beragam trend dan gaya hidup ala selebritis menjadi kebiasaan hampir di seluruh level lapisan masyarakat terutama kalangan pemuda atau generasi muda/pelajar. Paradigma pemirsa ini merupakan reaksi terhadap kecenderungan teksual tanpa melakukan proses penciptaan/penafsiran makna kultural sebelum mengambil pilihan sikap terhadap gaya hidup yang akan dijalaninya.
Akan sangat berbeda dengan karakter pemirsa yang memiliki basis pengetahuan berdasarkan kompetensi kultural, yang memandang teks budaya memiliki multi makna (polisemik). Sehingga ia mengetahui atau memahami pesan dan pola-pola makna kultural dari teks sebagai pembawa beragam makna. Proses penciptaan makna biasanya dipengaruhi oleh basis pengetahuan, identitas nasional pemirsa, status kelas sosial dan gender.
Menurut Gadamer dan Iser menyatakan bahwa relasi antara teks dan pembaca adalah merupakan hubungan interaktif dimana pembaca mendekati teks dengan harapan dan antisipasi-antisipasi tertentu yang mengalami modifikasi dalam perjalanan membaca dan akan digantikan oleh \"proyeksi-proyeksi\" baru.
Globalisasi Televisi dan Identitas Kultural
Menurut Schiller menyatakan bahwa media bisa masuk kedalam sistem kapitalis dunia dengan cara menyediakan dukungan bagi kapitalisme, khususnya pada perusahaan transnasional. Perusahaan-perusahaan multimedia merupakan bagian dari proses konglomerasi kapital yang lebih luas dibidang industri jasa dan komunikasi.
Globalisasi televisi merupakan salah satu ikhtiar kapitalisme dalam mencari komoditas dan pasar-pasar baru untuk melakukan ekspansi penjualan teks budaya sehingga mendekatkan para pemirsa pada budaya konsumtif melalui program iklan dan mind set hedonis serta berfikir instans melalui program-program televisi berupa kehidupan glamor dan metroseksual dalam tayangan-tayangan sinetron remaja sehingga dapat berimplikasi terhadap degradasi moral generasi muda.
Televisi bisa dianggap global dalam hal (Chris Barker, 2005 : 364 ) ;
• Beragamnya konfigurasi televisi publik dan komersial, yang diatur, didanai dan ditonton dalam batas-batas negara-bangsa dan atau komunitas-komunitas bahasa
• Teknologi, kepemilikan, distribusi program dan pemirsanya, yang beroperasi melintasi batas negara-bangsa dan komunitas bahasa.
• Diedarkan oleh televisi bentuk-bentuk narasi dan wacana yang mirip ke seluruh dunia.
Indonesia sebagai bangsa dan negara dunia ketiga, tentunya merupakan obyek utama pemasaran produk budaya masyarakat modern. Tak bisa dihindari atau dibendung pengaruh ideologi dan gaya hidup masyarakat barat telah menghipnotis dan merasuk ruh masyarakat budaya timur. Dan Indonesia adalah merupakan bangsa dan negara besar yang memiliki keanekaragaman budaya, agama, etnis, suku, ras dan golongan serta mempunyai kekayaan alam yang melimpah, ribuan pulau yang menyimpan potensi alam dan wisata.
Untuk itu diperlukan upaya sadar memelihara, melestarikan, dan menjaga kearifan budaya lokal/daerah, yang merupakan tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat dan bukan berarti tidak mau menerima budaya asing yang masuk. Namun kita perlu upaya filterisasi produk budaya lainnya untuk memperkaya khazanah kebudayaan dengan tetap memegang teguh prinsip-prinsip atau nilai-nilai universal yang sesuai dengan falsafah hidup atau cita-cita kebangsaan.
Beragam bentuk media, seperti televisi, radio, internet, surat kabar dan lain sebagainya digunakan sebagai sarana informasi komunikasi masyarakat modern. Televisi adalah media paling utama yang dapat diakses, dinikmati, dan mudah terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat serta senantiasa menjadi populer di belahan dunia berkembang. Televisi adalah bagian dari “prakondisi dan konstruksi selektif pengetahuan sosial, pembayangan sosial, yang digunakan untuk memersepsi ‘dunia-dunia’,’realitas’ kehidupan orang lain, dan secara imajiner merekonstruksi hidup kita dan mereka menjadi semacam ‘keseluruhan dunia’ (‘worl of the whole’) yang masuk akal bagi kita” (Hall dalam Chris Barker, 2005 : 341).
Televisi perlu dipahami secara kultural dan ekonomi dalam hal teks-teks (program) dan pola-pola maknanya, relasi antara teks dan pemirsa, politik ekonomi (komoditas industri). Oleh karena itu perlu adanya pendekatan multiperspektif untuk memahami televisi yang telah memproduksi teks budaya dan membawa pengaruh signifikan terhadap life style masyarakat kontemporer, baik yang bersifat positif maupun negatif.
Televisi sebagai Teks Budaya
Era globalisasi telah membawa budaya melintasi ruang dan waktu, kita tidak hanya menjumpai budaya dalam ruang dan waktu yang teritualkan melainkan bisa juga dengan melalui layar televisi. Beragam teks-teks budaya (program) yang disajikan televisi dengan membawa pesan dan makna-makna kultural. Belum ada media massa yang dapat menandingi televisi dalam besarnya skala volume teks budaya yang diproduksi dengan jumlah penonton yang sangat besar pula. Televisi telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat dunia untuk mengakses informasi dan sarana hiburan, khususnya bagi negara-negara berkembang karena mudah terjangkau oleh selurus lapisan masyarakatnya
Tanpa disadari, televisi telah menjadi ‘tuhan’ sekaligus ‘hantu’ masyarakat kontemporer. Sikap ketergantungan dan senantiasa mengikuti pola-pola trend atau gaya hidup yang diproduksi televisi melalui sajian teks-teks budayanya (program) adalah wujud kepatuhan dan ketundukan manusia terhadap produk budaya yang diciptakannya sendiri. Dan menjadi hantu masyarakat karena beragam teks budaya justru membawa ketakutan, tindakan kriminalitas dan anarkis.
Televisi telah membawa pesan dan pola-pola makna kultural kehidupan masyarakat kontemporer yang serba boleh dan menjadikan opini publik sebagai prinsip dasar dalam menentukan kebenaran dan kebaikan perilaku atau tindakan manusia. Contoh, kasus Goyang Ngebor Inul, film buruan cium gue, smackdown, gosip dan sinetron-sinetron remaja.
Pada mulanya terjadi kontroversial atas goyang ngebor inul di ruang publik. Sebagai barisan kaum relegius, para ulama menyatakan sikap dan kecaman keras terhadap aksi erotis goyang inul karena dapat membangkitkan nafsu birahi manusia tanpa terkendali dengan benar dan baik. Disisi lain, sebagian kaum entertainment yang diwakili oleh artis sebagai barisan yang membela tindakan aksi goyang inul. Menurut sebagian besar kalangan artis menyatakan bahwa aksi ngebor inul adalah wujud ekspresi seni yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran dan kebajikan. Begitu juga dengan kasus kekerasan anak yang lahir dari budaya imitasi terhadap tayangan smackdown, penayangan film-film mistis, khayalan dan mitologi animisme-dinamisme menjadi teks-teks budaya yang mengandung makna-makna kultural yang akan membentuk pola pikir dan sikap tidak kritis, memandulkan alam pikir untuk menangkap dan merasakan kehadiran Ilahi, kebenaran dan nilai-nilai kebajikan. Belum lagi, tayangan infotaiment yang menyajikan gosip rumah tangga orang, mengumbar atau mempublikasikan kondisi rumah tangga seseorang yang menembus batas ruang privasi, tentu akan semakin memprovokasi ruang konflik/ketegangan sosial dan psikologis, membuka aib seseorang, bahkan bisa menimbulkan perilaku fitnah
Contoh-contoh tayangan program televisi di atas, awalnya terjadi kontroversial dan mengundang berbagai pihak baik ulama, akademisi, birokrat, aktivis gerakan dan lain sebagainya untuk memberikan penilaian terhadap tayangan tersebut. Namun lambat laun seiring dengan perjalanan waktu, aksi erotis goyang inul dan infotainment mengenai gosip rumah tangga orang menjadi sesuatu yang biasa dan semakin menjamur dalam program tayangan pertelevisian di Indonesia, bahkan dinikmati dan digemari sebagian besar masyarakat terutama kalangan remaja. Dari hal di atas, kita dapat melihat bahwa terjadi dialektika antara teks suci dan teks budaya, dimana teks suci mengandung pesan dan makna absolutisme etika dan teks-teks budaya dilayar televisi adalah keserbabolehan dan relativisme etika.
Kehidupan masyarakat modern yang serba bebas (keserbabolehan), relativitas nilai menjadi pandangan atau pedomannya. Kebenaran sejati (etika dan agama) menjadi tergantikan perannya oleh perkembangan sains dan teknologi modern dalam memandang dan memecahkan realitas kehidupan. Disatu sisi teknologi modern menyimpan potensi menghancurkan derajat manusia (dehumanisasi), manusia telah menjadi budak oleh ciptaannya sendiri, meskipun disisi lainnya produk teknologi modern memberikan kemudahan mencari ilmu dan menggali informasi pelbagai pemikiran manusia untuk membangun peradaban dan kehidupan manusia menuju masyarakat kritis dan inklusif.
Sesungguhnya ada kecenderungan manusia modern merasa kesepian dalam keramaian, merasa terasing dengan kerabatnya sendiri, terpenjara oleh dunia serba bebas yang sesungguhnya memberikan kenikmatan semu, terbelenggu dan menjadi budak oleh ciptaannya sendiri. Televisi telah membatasi ruang dan waktu anak-anak sejak usia dini untuk berinteraksi sosial.
Relasi Teks Budaya dan Pemirsa
Kecerdasan pemirsa untuk menafsirkan pesan dan makna teks-teks kultural sangat menentukan pilihan sadarnya untuk mengambil sikap dan perilakunya terhadap realitas kehidupan. Beragam informasi dan hiburan sebagai bentuk produk teks-teks budaya akan tersimpan dalam memori pengetahuan dalam alam pikir manusia untuk dijadikan bahan refleksi diri untuk menentukan pilihan model budaya yang akan menjadi gaya hidupnya.
Secara behavioral, sebagian besar kecenderungan pemirsa melakukan tindakan imitasi terhadap teks budaya yang diproduksi oleh televisi. Beragam trend dan gaya hidup ala selebritis menjadi kebiasaan hampir di seluruh level lapisan masyarakat terutama kalangan pemuda atau generasi muda/pelajar. Paradigma pemirsa ini merupakan reaksi terhadap kecenderungan teksual tanpa melakukan proses penciptaan/penafsiran makna kultural sebelum mengambil pilihan sikap terhadap gaya hidup yang akan dijalaninya.
Akan sangat berbeda dengan karakter pemirsa yang memiliki basis pengetahuan berdasarkan kompetensi kultural, yang memandang teks budaya memiliki multi makna (polisemik). Sehingga ia mengetahui atau memahami pesan dan pola-pola makna kultural dari teks sebagai pembawa beragam makna. Proses penciptaan makna biasanya dipengaruhi oleh basis pengetahuan, identitas nasional pemirsa, status kelas sosial dan gender.
Menurut Gadamer dan Iser menyatakan bahwa relasi antara teks dan pembaca adalah merupakan hubungan interaktif dimana pembaca mendekati teks dengan harapan dan antisipasi-antisipasi tertentu yang mengalami modifikasi dalam perjalanan membaca dan akan digantikan oleh \"proyeksi-proyeksi\" baru.
Globalisasi Televisi dan Identitas Kultural
Menurut Schiller menyatakan bahwa media bisa masuk kedalam sistem kapitalis dunia dengan cara menyediakan dukungan bagi kapitalisme, khususnya pada perusahaan transnasional. Perusahaan-perusahaan multimedia merupakan bagian dari proses konglomerasi kapital yang lebih luas dibidang industri jasa dan komunikasi.
Globalisasi televisi merupakan salah satu ikhtiar kapitalisme dalam mencari komoditas dan pasar-pasar baru untuk melakukan ekspansi penjualan teks budaya sehingga mendekatkan para pemirsa pada budaya konsumtif melalui program iklan dan mind set hedonis serta berfikir instans melalui program-program televisi berupa kehidupan glamor dan metroseksual dalam tayangan-tayangan sinetron remaja sehingga dapat berimplikasi terhadap degradasi moral generasi muda.
Televisi bisa dianggap global dalam hal (Chris Barker, 2005 : 364 ) ;
• Beragamnya konfigurasi televisi publik dan komersial, yang diatur, didanai dan ditonton dalam batas-batas negara-bangsa dan atau komunitas-komunitas bahasa
• Teknologi, kepemilikan, distribusi program dan pemirsanya, yang beroperasi melintasi batas negara-bangsa dan komunitas bahasa.
• Diedarkan oleh televisi bentuk-bentuk narasi dan wacana yang mirip ke seluruh dunia.
Indonesia sebagai bangsa dan negara dunia ketiga, tentunya merupakan obyek utama pemasaran produk budaya masyarakat modern. Tak bisa dihindari atau dibendung pengaruh ideologi dan gaya hidup masyarakat barat telah menghipnotis dan merasuk ruh masyarakat budaya timur. Dan Indonesia adalah merupakan bangsa dan negara besar yang memiliki keanekaragaman budaya, agama, etnis, suku, ras dan golongan serta mempunyai kekayaan alam yang melimpah, ribuan pulau yang menyimpan potensi alam dan wisata.
Untuk itu diperlukan upaya sadar memelihara, melestarikan, dan menjaga kearifan budaya lokal/daerah, yang merupakan tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat dan bukan berarti tidak mau menerima budaya asing yang masuk. Namun kita perlu upaya filterisasi produk budaya lainnya untuk memperkaya khazanah kebudayaan dengan tetap memegang teguh prinsip-prinsip atau nilai-nilai universal yang sesuai dengan falsafah hidup atau cita-cita kebangsaan.
PENANGGULANGAN PENGARUH NEGATIF GLOBALISASI PADA NILAI-NILAI BUDAYA BANGSA INDONESIA
Era globalisasi membawa berbagai perubahan yang menyentuh sampai pada dasar kehidupan manusia. Perubahan tersebut disebabkan oleh perjuangan Hak Asasi Manusia (HAM), pelestarian lingkungan hidup serta peningkatan kualitas hidup. Corak masyarakat globalisasi terus bertambah, dari masyarakat pasca industri, pencapaian tujuan dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan cenderung semakin dibutuhkan oleh penguasaan teknologi dan informasi.
Pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat, persediaan bahan pangan, bahan energi dan bahan industri strategis semakin langka serta kesenjangan penguasaan teknologi semakin lebar menimbulkan kencenderungan yang memperuncing perbedaan kepentingan antar negara dan pada gilirannya dapat menimbulkan konflik antar negara.
Kemajuan bidang teknologi informasi, komunikasi dan transportasi, serta makin menonjolnya kepentingan ekonomi dan perdagangan yang telah mendorong terwujudnya globalisasi, memberi peluang terjadinya infiltrasi budaya Barat sebagai ukuran tata nilai dunia. Tidak jarang terjadi, demi kepentingan ekonomi, suatu negara terpaksa menerima masuknya budaya Barat yang belum tentu sesuai dengan situasi dan kondisi negara itu sendiri dan berakibat pada pola pikir dan pola tindak yang ditandai dengan pemikiran Negara Federasi, menurun-nya rasa sosial dan semangat ke-bhineka-an yang mengarah pada disintegrasi bangsa dan pelanggaran hukum serta pola hidup individualisme dan konsumerisme yang bertentangan dengan pola hidup sederhana dan semua itu bertentangan dengan nilai-nilai budaya asli bangsa Indonesia yang digali dari Pancasila.
Untuk membangun bangsa Indonesia menjadi bangsa yang tangguh, budaya nasional perlu dibina dan dikedepankan agar dapat berfungsi sebagai pemersatu anak bangsa, karena tidak ada bangsa yang berhasil maju kecuali maju sebagai satu kesatuan yang utuh, tidak terpecah-pecah dalam mempertahan-kan jati diri dan budayanya.
Kebudayaan nasional perlu dibina sebagai langkah persatuan dan kesatuan bangsa melalui perangkat nilai budaya yang dimiliki. Nilai-nilai budaya tersebut harus disosialisasikan dan diinternalisasikan kepada warga negara Indonesia untuk dijadikan pedoman bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Perwujudan pengembangan budaya bangsa Indonesia untuk mendukung pertahanan negara perlu konsepsi yang jelas dan dirumuskan dengan mempertimbangkan segi teori, keinginan masyarakat Indonesia dan keinginan tokoh-tokoh masyarakat.
Diharapkan pemerintah, tokoh masyarakat serta masyarakat Indonesia dapat memberikan dukungan guna mengendalikan kondisi moral bangsa Indonesia agar tetap dalam kerangka nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia. Tulisan ini diharapkan dapat menghasilkan suatu konsepsi penanggulangan pengaruh negatif globalisasi pada nilai-nilai budaya bangsa yang tertuang dalam kebijakan, strategi dan upaya-upaya yang dapat diimplementasikan dalam hidup berbangsa dan bernegara.
Maksud, Tujuan dan Ruang Lingkup Kajian.
§ Maksud. Tulisan ini dimaksudkan untuk menghasilkan konsepsi penanggulangan pengaruh negatif globalisasi pada nilai-nilai budaya bangsa Indonesia.
§ Tujuan. Agar dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi pimpinan dalam menentukan kebijakan di bidang penang-gulangan pengaruh negatif globalisasi pada nilai-nilai budaya bangsa Indonesia.
§ Ruang lingkup. Pembahasan meliputi gambaran tentang pengaruh negatif globalisasi pada nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia serta konsepsi penanggul-angannya yang dituangkan dalam kebijakan, stategi dan upaya-upaya.
Nilai-nilai Budaya Bangsa Indonesia.
a. Pancasila sebagai kristalisasi nilai-nilai luhur Bangsa Indonesia. Pancasila dirumuskan dari nilai-nilai budaya bangsa Indonesia yang ideal dan mempunyai kelebihan-kelebihan wawasan ke depan yang integral, mengakui dan mengembangkan kehidupan sosial religius, memiliki orientasi kemanusiaan serta menciptakan iklim kehidupan yang seimbang, suasana kehidupan kekeluargaan, menanamkan pola hidup kerakyatan dan mendorong dinamika perjuangan. Beberapa iklim kehidupan dapat dijelaskan sebagai berikut :
§ Menciptakan iklim kehidupan yang seimbang, nilai-nilai Pancasila mempunyai keseimbangan antara kepentingan jasmani dan rohani serta kepentingan individu dan kepentingan bersama. Dengan demikian nilai Pancasila mengarah pada kehidupan yang integral.
§ Menciptakan suasana kehidupan kekeluargaan. Pancasila sebagai-mana keluarga, menciptakan suasana kehidupan yang bercirikan musyawarah, mufakat adil dan kebersamaan (persatuan) manusia lain dipandang sebagai saudara.
§ Menanamkan pola hidup kerakyatan. Pola hidup kerak-yatan dalam Pancasila berarti meningkatkan pola hidup kebersamaan dalam masyarakat, yaitu kepentingan umum di atas kepentingan perorangan, pemerataan kemakmuran dan kestabilan kemakmuran.
§ Menciptakan iklim kehidupan yang dinamis. Sila Ketuhanan yang Maha Esa berarti manusia Indonesia menjadi manusia yang bertuhan. Manusia bertuhan menggunakan kriteria mutlak dalam pengambilan keputusan. Sebagai manusia beriman perjuangannya akan berhasil dan tidak mudah menyerah. Iklim kehidupan dinamis ini akan menjiwai perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut dan mengisi kemerdekaan.
b. Pancasila sebagai salah satu paradigma nasional ditempatkan paling atas, seharusnya selalu digunakan sebagai pedoman dan pertimbangan dalam memecahkan berbagai permasalahan ber-masyarakat, berbangsa dan bernegara. Keutuhan sila Pancasila mengandung nilai-nilai universal yang dapat dijadikan pedoman dalam menyelesaikan berbagai permasalahan, domestik, regional maupun global. Adapun penjabaran nilai-nilai budaya yang terkandung dalam kelima sila dari Pancasila, sebagai berikut:
§ Ketuhanan Yang Maha Esa. Negara Indonesia mewajibkan warganya untuk beragama tetapi tidak menunjuk agama tertentu dan memiliki toleransi agama yang tinggi dan obyektif, pemahaman tentang agama harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Agama membekali manusia untuk memandang kehidupan tidak hanya terbatas kepada kehidupan dunia tetapi juga kehidupan di akherat.
§ Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Negara menghargai nilai-nilai kemanusiaan, peng-akuan manusia sebagai mahluk individu dan mahluk sosial, kehidupan bermasyarakat di Indonesia mengutamakan keadilan yang proporsional sesuai dengan peran dan tanggung jawab masing-masing.
§ Persatuan Indonesia. Bangsa Indonesia lebih mementingkan persatuan dan kesatuan bangsa, tanpa membeda-bedakan suku, golongan, ras dan agama tertentu.
§ Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Kebebasan harus disertai dengan tanggung jawab, mengakui adanya perbedaan individu, kelompok, ras, suku dan agama. Mengarahkan perbedaan menjadi kerjasama dalam bermasyarakat dan selalu menggunakan asas kebenaran nalar dan kebenaran iman.
§ Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bangsa Indonesia selalu menjaga keseimbangan antara kepentingan pribadi dan kepentingan bersama. Bangsa Indonesia selalu mengarahkan pada struktur-struktur sosial yang adil, melaksanakan kesejah-teraan umum bagi seluruh anggota masyarakat.
Upaya-upaya.
§ Meningkatkan pemahaman dan analisis informasi didasarkan pada nilai-nilai budaya asli Indonesia dengan peningkatan kemampuan logika, analisis bahasa dan analisis wacana.
§ Meningkatakan pembinaan terhadap pendidikan agama, pancasila dan kewarga-negaraan dengan meningkatkan pemahaman dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
§ Pemahaman budaya kepemimpinan yang diharapkan mampu mewujudakan tujuan pembangunan khususnya di bidang pertahanan negara.
§ Filter terhadap budaya asing dengan meningkatkan internalisasi budaya asli, pemahaman terhadap nilai-nilai budaya asing dan analisis kesesuaiannya dengan nilai budaya asli. Filter untuk mewujudkan budaya nasional yang dinamis dan stabil.
§ Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan dalam rangka internalisasi nilai-nilai budaya nasional.
Pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat, persediaan bahan pangan, bahan energi dan bahan industri strategis semakin langka serta kesenjangan penguasaan teknologi semakin lebar menimbulkan kencenderungan yang memperuncing perbedaan kepentingan antar negara dan pada gilirannya dapat menimbulkan konflik antar negara.
Kemajuan bidang teknologi informasi, komunikasi dan transportasi, serta makin menonjolnya kepentingan ekonomi dan perdagangan yang telah mendorong terwujudnya globalisasi, memberi peluang terjadinya infiltrasi budaya Barat sebagai ukuran tata nilai dunia. Tidak jarang terjadi, demi kepentingan ekonomi, suatu negara terpaksa menerima masuknya budaya Barat yang belum tentu sesuai dengan situasi dan kondisi negara itu sendiri dan berakibat pada pola pikir dan pola tindak yang ditandai dengan pemikiran Negara Federasi, menurun-nya rasa sosial dan semangat ke-bhineka-an yang mengarah pada disintegrasi bangsa dan pelanggaran hukum serta pola hidup individualisme dan konsumerisme yang bertentangan dengan pola hidup sederhana dan semua itu bertentangan dengan nilai-nilai budaya asli bangsa Indonesia yang digali dari Pancasila.
Untuk membangun bangsa Indonesia menjadi bangsa yang tangguh, budaya nasional perlu dibina dan dikedepankan agar dapat berfungsi sebagai pemersatu anak bangsa, karena tidak ada bangsa yang berhasil maju kecuali maju sebagai satu kesatuan yang utuh, tidak terpecah-pecah dalam mempertahan-kan jati diri dan budayanya.
Kebudayaan nasional perlu dibina sebagai langkah persatuan dan kesatuan bangsa melalui perangkat nilai budaya yang dimiliki. Nilai-nilai budaya tersebut harus disosialisasikan dan diinternalisasikan kepada warga negara Indonesia untuk dijadikan pedoman bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Perwujudan pengembangan budaya bangsa Indonesia untuk mendukung pertahanan negara perlu konsepsi yang jelas dan dirumuskan dengan mempertimbangkan segi teori, keinginan masyarakat Indonesia dan keinginan tokoh-tokoh masyarakat.
Diharapkan pemerintah, tokoh masyarakat serta masyarakat Indonesia dapat memberikan dukungan guna mengendalikan kondisi moral bangsa Indonesia agar tetap dalam kerangka nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia. Tulisan ini diharapkan dapat menghasilkan suatu konsepsi penanggulangan pengaruh negatif globalisasi pada nilai-nilai budaya bangsa yang tertuang dalam kebijakan, strategi dan upaya-upaya yang dapat diimplementasikan dalam hidup berbangsa dan bernegara.
Maksud, Tujuan dan Ruang Lingkup Kajian.
§ Maksud. Tulisan ini dimaksudkan untuk menghasilkan konsepsi penanggulangan pengaruh negatif globalisasi pada nilai-nilai budaya bangsa Indonesia.
§ Tujuan. Agar dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi pimpinan dalam menentukan kebijakan di bidang penang-gulangan pengaruh negatif globalisasi pada nilai-nilai budaya bangsa Indonesia.
§ Ruang lingkup. Pembahasan meliputi gambaran tentang pengaruh negatif globalisasi pada nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia serta konsepsi penanggul-angannya yang dituangkan dalam kebijakan, stategi dan upaya-upaya.
Nilai-nilai Budaya Bangsa Indonesia.
a. Pancasila sebagai kristalisasi nilai-nilai luhur Bangsa Indonesia. Pancasila dirumuskan dari nilai-nilai budaya bangsa Indonesia yang ideal dan mempunyai kelebihan-kelebihan wawasan ke depan yang integral, mengakui dan mengembangkan kehidupan sosial religius, memiliki orientasi kemanusiaan serta menciptakan iklim kehidupan yang seimbang, suasana kehidupan kekeluargaan, menanamkan pola hidup kerakyatan dan mendorong dinamika perjuangan. Beberapa iklim kehidupan dapat dijelaskan sebagai berikut :
§ Menciptakan iklim kehidupan yang seimbang, nilai-nilai Pancasila mempunyai keseimbangan antara kepentingan jasmani dan rohani serta kepentingan individu dan kepentingan bersama. Dengan demikian nilai Pancasila mengarah pada kehidupan yang integral.
§ Menciptakan suasana kehidupan kekeluargaan. Pancasila sebagai-mana keluarga, menciptakan suasana kehidupan yang bercirikan musyawarah, mufakat adil dan kebersamaan (persatuan) manusia lain dipandang sebagai saudara.
§ Menanamkan pola hidup kerakyatan. Pola hidup kerak-yatan dalam Pancasila berarti meningkatkan pola hidup kebersamaan dalam masyarakat, yaitu kepentingan umum di atas kepentingan perorangan, pemerataan kemakmuran dan kestabilan kemakmuran.
§ Menciptakan iklim kehidupan yang dinamis. Sila Ketuhanan yang Maha Esa berarti manusia Indonesia menjadi manusia yang bertuhan. Manusia bertuhan menggunakan kriteria mutlak dalam pengambilan keputusan. Sebagai manusia beriman perjuangannya akan berhasil dan tidak mudah menyerah. Iklim kehidupan dinamis ini akan menjiwai perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut dan mengisi kemerdekaan.
b. Pancasila sebagai salah satu paradigma nasional ditempatkan paling atas, seharusnya selalu digunakan sebagai pedoman dan pertimbangan dalam memecahkan berbagai permasalahan ber-masyarakat, berbangsa dan bernegara. Keutuhan sila Pancasila mengandung nilai-nilai universal yang dapat dijadikan pedoman dalam menyelesaikan berbagai permasalahan, domestik, regional maupun global. Adapun penjabaran nilai-nilai budaya yang terkandung dalam kelima sila dari Pancasila, sebagai berikut:
§ Ketuhanan Yang Maha Esa. Negara Indonesia mewajibkan warganya untuk beragama tetapi tidak menunjuk agama tertentu dan memiliki toleransi agama yang tinggi dan obyektif, pemahaman tentang agama harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Agama membekali manusia untuk memandang kehidupan tidak hanya terbatas kepada kehidupan dunia tetapi juga kehidupan di akherat.
§ Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Negara menghargai nilai-nilai kemanusiaan, peng-akuan manusia sebagai mahluk individu dan mahluk sosial, kehidupan bermasyarakat di Indonesia mengutamakan keadilan yang proporsional sesuai dengan peran dan tanggung jawab masing-masing.
§ Persatuan Indonesia. Bangsa Indonesia lebih mementingkan persatuan dan kesatuan bangsa, tanpa membeda-bedakan suku, golongan, ras dan agama tertentu.
§ Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Kebebasan harus disertai dengan tanggung jawab, mengakui adanya perbedaan individu, kelompok, ras, suku dan agama. Mengarahkan perbedaan menjadi kerjasama dalam bermasyarakat dan selalu menggunakan asas kebenaran nalar dan kebenaran iman.
§ Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bangsa Indonesia selalu menjaga keseimbangan antara kepentingan pribadi dan kepentingan bersama. Bangsa Indonesia selalu mengarahkan pada struktur-struktur sosial yang adil, melaksanakan kesejah-teraan umum bagi seluruh anggota masyarakat.
Upaya-upaya.
§ Meningkatkan pemahaman dan analisis informasi didasarkan pada nilai-nilai budaya asli Indonesia dengan peningkatan kemampuan logika, analisis bahasa dan analisis wacana.
§ Meningkatakan pembinaan terhadap pendidikan agama, pancasila dan kewarga-negaraan dengan meningkatkan pemahaman dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
§ Pemahaman budaya kepemimpinan yang diharapkan mampu mewujudakan tujuan pembangunan khususnya di bidang pertahanan negara.
§ Filter terhadap budaya asing dengan meningkatkan internalisasi budaya asli, pemahaman terhadap nilai-nilai budaya asing dan analisis kesesuaiannya dengan nilai budaya asli. Filter untuk mewujudkan budaya nasional yang dinamis dan stabil.
§ Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan dalam rangka internalisasi nilai-nilai budaya nasional.
MANUSIA BERPENDIDIKAN YANG BERWATAK PANCASILA
Krisis mendasar pada manusia berpendidikan
Baru-baru ini madia masaa, baik cetak maupun elektronik menginformasikan kepada public, bahwa Sri Mulyani (Mentri Keuangan) telah mengundurkan diri dari jabatannya, yang di sinyalir adanya dugaan kasus bank century. Yang paling terbaru adalah kasus MARKUS (Makelar Kasus) di departemen Pajak yang menyeret beberapa pejabat tinggi perpajakan. Problem yang satu belum usai datang yang baru, ini mengindikasikan adanya sekenario yang tersusun secara sistematis di elite bangsa ini, yang seolah fakta kebenaran semakin susah di ungkap.
Segelimet persoalan krusial diatas, nampaknya ada persoalan yang sangat mendasar pada manusia-manusia kita, yaitu pada proses pembinaan dan proses pendidikan yang hilang secara utuh pada manusia kita. Yang akhirnya mau ataupun tidak pendidikan mendapatkan kritik dari berbagai kalangan, begitupun nampaknya pendidikan kita belum masuk pada proses keterbinaan dan ketersadaran manusianya.
Para kritikus pendidikan, yang memiliki cara pandang kritis terhadap pendidikan, yang membongkar asumsi masyarakat bahwa pendidikan sangatlah netral yang tidak memilki keterkaitan dengan aspek apapun, bahkan politik kekuasaan, namun mereka berasumsi bahwa ada keterkaitan antara suatu kekuasaan yang sangat berimplikasi terhadap lembaga pendidikan. Para kritikus Mengkritik secara keras akan persoalan pendidikan, pembinaan terhadap manusia, bukan hanya pada komunikasi dan relasi yang terjalin dalam di lingkungan sekolah semata dan bukan hanya pada transfer knowlarge (transformasi pengetahuan), akan tetapi proses penyadasaran diri. Yang sehingga proses kesadaran yang terbangun dalam peserta didik.(Poulo Freire;2007)
Dr. M.Agus Nuryanto (2008) dalam bukunya ”Pendidikan Mazhab Kritis”, persoalan yang terjadi di dunia global hari ini adalah banyak faham yang mendorong masyarakat untuk berfikir matrealisme, yang sehingga kecenderungan orang tua memilki tujuan menyekolahkan anaknya adalah menjadikan anaknya untuk memdapatkan pekerjaan yang layak sebagai orientasi pertama, jadi bukan menjadikan sekolah sebagai proses pendewasaan apalagi memunculkan kesadaran-bahasa. Prof Ahmad Tafsir memanusiakan manusia-pada si anak, hal ini tanpa disadari akan memplot pola pikir anak bahwa sekolah hanya untuk mendapatkan pekerjaan, yang pada akhirnya akan terjadi pemilahan fakultas, mana fakultas yang mengorientasikan kerja mana yang tidak, sebagai contoh kecil, kampus kita mahasiswa banyak sekali berbondong-bondong masuk jurusan Pendidikan ketimbang Filsafat atau Sastra. Sebab pasar kerja pendidikan lebih banyak ketimbang Filsafat ataupun sastrawan.
Bukannya penulis mengatakan bersekolah untuk mendapatkan pekerjaan itu salah akan tetapi tidak di jadikan orientasi kerja dari sekolah. Yang nantinya hemat penulis hal tersebut akan membentuk masyarakat yang matrealis dan berpola fikir kafitalis, manusia-manusia pengekor, bahasa aktifis manusia-manusia ABS (Asala Babeh Seneng).
Ketika problem dalam Manusia pendidikan kita seperti diatas, kiranya penulis mencoba mengkorelasikan antara krisis manusia berpendidikan yang masih kurang tertanamnya nilai-nilai Pancasila, yang sehingga mampu menjaga dan memperbaiki bangsa ini.
Perlunya Pendidikan yang menanamkan Nilai-nilai Pancasila
Pertanyaan pertama mengapa harus nilai-nilai pancasila?, mudah saja jawabannya, sebab Pancasila bagi bangsa Indonesia kiranya telah sepakat sebagai jati diri, kepribadian, falsafah hidup, dan landasan hidup berbangsa dan bernegara. Sehingga dalam dunia pendidikan pancasila selama ini terus menjadi bahan ajar di setiap lembaga pendidikan dari SD sampai Perguruan Tinggi. Yang mana nilai-nilai pancasila akan menjadi pandangan hidup bagi warga indonesia.
Lalu apa saja nilai-nilai pancasila itu?, ada lima nilai pancasila itu, pertama, orang Indonesia harus mempercayai adanya Tuhan yang Esa menurut agamanya masing-masing, maka bangsa indonesia haruslah berfaham Theisme (berfaham ke-Tuhanan), bukan atheis (tidadk bertuhan), maka ketika bangsa indonesia memilki sesuatu yang di percayai secara transenden maka akan memiliki efek domino terhadap sesuatu yang lain, meminjam bahasa Cak Nur, kepercayaan yang benar akan melahirkan tata nilai yang baik terhadap peraban manusia.
Maka nilai ke-imanan terhadap sesuatu yang esa yakni Tuhan ini menurut A.Tafsir (2008;53) akan menjiwai terhadap empat nilai lainnya. kedua, manusia yang adil dan beradab yang berdasarkan keimanan kepada Tuhan yang Esa, ketiga, persatuan indonesia, kempat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan kelima keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
Dalam hal ini Muhamad SAW merupakan contoh kita sebagai sang pembebas kaum lemah, Asgar Ali Enginer (2006;41-42) menjadikan Nabi Muhamad SAW sebagai sang revolusioner dunia, melihat sejarah kondisi sosio-kultur mekah sebelum Nabi Muhamad SAW dilahirkan, apa yang terjadi masyarakat mekah pada waktu itu adalah masyarakat yang buta huruf, masyarakat berasumsi bahwa belajar baca-tulis akan menghabiskan waktu dan bahkan buta huruf menjadi kebanggaan bagi mereka, yang sehingga zaman sebelum datangnya Islam disebut zaman jahiliyah.
Kehidupan relegius bahkan lebih buruk, setiap suku memilki berhala sendiri, para sejarawan menyebutkan kurang lebih dari 360 berhala di letakan di ka’bah, wanita sangat tidak di hargai, mereka secara ekonomi dan sosial sangatlah di batasi, status perkawinan mereka sangatlah buruk hanya di jadikan permainan belaka, bahkan ayat al-Quran menjelaskan ketika bayi perempuan lahir akan di kubur hidup-hidup. Kondisi ekonomi lebih suramnya, kesenjangan golongan masyarakat lemah tidak di hiraukan, perbukan sudah menjadi hal biasa di jaman jahiliah, para buruh di kerja paksa hanya mendapatkan gajih sedikit.
Muhamad lahir dalam kondisi sosial mekah yang sangat buruk sekali, yang sehingga beliau tidak pernah belajar membaca dan menulis sebab kondisi masyarakat seperti itu, dan kemampuan baca-tulis beliau tidak memilki nilai fungsional kecuali untuk urusan dagang dan itupun dikenalkan untuk kebutuhanya dalam berdagang. Beliau mengejutkan mekah pada usia 40 tahun membebaskan masyarakat mekah dan seluruh umat manusia. Pembebasan untuk mengangkat harkat dan martabat manusia serta memberikan kebebasan berfikir dan berbuat. Inilah gambaran ideal yang musti kita contoh, yang menginsfirasi hidup dan memiliki makna tujuan yang jelas, beliau juga berjuang untuk membebaskan kaum tertindas. Prof. A.Tafsir menjelaskan bahwa dari kelima nilai dasar pancasila itu terjiwai dan terwarnai oleh sila yang pertama yang menjadi nilai inti, serta mengarahkan empat nilai yang lainya.
Kita lihat dilapangan, pertanyaannya, Sekarang sejauh mana perhayatan peserta didik terhadap nilai-nilai pancasila? Seberapa jauh siswa memperoleh indikator konkret dari Pancasila?, Paling tidak siswa memahami kaitan bahan ajar di sekolah dengan Pancasila sebagai filsafat pendidikan bangsa Indonesia. Yaitu bagaimana secara rasional bahwa mata pelajaran kewarga-negaraan, pendidikan agama, IPA, IPS, kesenian, olah raga, muatan lokal, dan lain-lain, merupakan hasil elaborasi dari pilihan acuan pendidikan.
Bagaimanapun, untuk menetapkan arah pendidikan, tidak akan lepas dari persoalan tujuan hidup dan maknanya bagi individu dan masyarakat. Oleh karena itu, tujuan hidup masyarakat melekat pada nilai-nilai masyarakat dan perubahannya.
Manusia berpendidikan yang diharapkan oleh Pancasila
Manusia dalam pandangan Nilai-nilai dasar Perjuangan (NDP) HMI, di jelaskan bahwa manusia adalah puncak ciptaan, merupakan mahluk yang tertinggi dan adalah wakil dari Tuhan di bumi. Sesuatu yang membuat manusia yang menjadi manusia bukan hanya beberapa sifat atau kegiatan yang ada padanya, melainkan suatu keseluruhan susunan sebagai sifat-sifat dan kegiatan-kegiatan yang khusus dimiliki manusia saja yaitu Fitrah. Fitrah membuat manusia berkeinginan suci dan secara kodrati cenderung kepada kebenaran (Hanief). hati nurani adalah pemancar keinginan pada kebaikan, kesucian dan kebenaran.
Tujuan hidup manusia ialah kebenaran yang mutlak atau kebenaran yang terakhir, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Fitrah merupakan bentuk keseluruhan tentang diri manusia yang secara asasi dan prinsipil membedakannya dari mahluk-mahluk yang lain. Dengan memenuhi hati nurani, seseorang berada dalam fitrahnya dan menjadi manusia sejati.
Ada keselarasan nilai-nilai pancasila ayat pertama bahwa manusia memilki kecenderungan kepada keberan mutlak kepada Tuhan yang maha Esa, yang dimana tujuan pendidikan adalah manusia yang baik, manusia yang baik akan meciptakan masyarakat yang baik dalam kehidupan, masyarakat yang baik adalah masyarakat pada zaman Rasullah SAW, yaitu masyarakat Madani.
Masyarakat madani adalah masyarakat kota, masyarakat yang mengenal hukum dan taat hukum, Prof Ahmad Tafsir mengatakan bahwa yang diperlukan untuk mewujudkan masyarakat madani yaitu adanya hukum yang mengatur masyarakat manusia yang sesuai dengan kemanusiaannya, hukum itu di taati dan adanya penegak hukum.
Melihat poiter-pointer nilai pancasila penulis mengambil kesimpulan bahwa masnusia berpendidikan yang diharapkan oleh pancasila adalah manusia yang memilki kesadaran dalam membangun masyarakat baik, manusia yang memilki berwatak keillahian secara fitrah kemanusiaan, manusia yang menerima pluralitas masyarakat, manusia yang demokratis, manusia yang memiliki jiwa sosial yang tinggi terhadap kaum lemah, manusia yang vionir, manusia yang memilki aktivitas berjuang dalam membebaskan pendindasan. Maka bersamaan dengan ini manusia yang di harapkan oleh pancasila adalah manusia yang paripurna atau insan kamil
Hemat penulis Pancasila sebagai filsafat pendidikan bangsa harus menampakkan diri sebagai indikator karakteristik mentalitas bangsa Indonesia. Yang sehingga bisa terwujud dalam mental pesrta didik (lulusan pendidikan), termasuk tujuan pendidikan yang dielaborasi menjadi tujuan Institusional, tujuan Kurikuler, dan tujuan Instruksional.
Baru-baru ini madia masaa, baik cetak maupun elektronik menginformasikan kepada public, bahwa Sri Mulyani (Mentri Keuangan) telah mengundurkan diri dari jabatannya, yang di sinyalir adanya dugaan kasus bank century. Yang paling terbaru adalah kasus MARKUS (Makelar Kasus) di departemen Pajak yang menyeret beberapa pejabat tinggi perpajakan. Problem yang satu belum usai datang yang baru, ini mengindikasikan adanya sekenario yang tersusun secara sistematis di elite bangsa ini, yang seolah fakta kebenaran semakin susah di ungkap.
Segelimet persoalan krusial diatas, nampaknya ada persoalan yang sangat mendasar pada manusia-manusia kita, yaitu pada proses pembinaan dan proses pendidikan yang hilang secara utuh pada manusia kita. Yang akhirnya mau ataupun tidak pendidikan mendapatkan kritik dari berbagai kalangan, begitupun nampaknya pendidikan kita belum masuk pada proses keterbinaan dan ketersadaran manusianya.
Para kritikus pendidikan, yang memiliki cara pandang kritis terhadap pendidikan, yang membongkar asumsi masyarakat bahwa pendidikan sangatlah netral yang tidak memilki keterkaitan dengan aspek apapun, bahkan politik kekuasaan, namun mereka berasumsi bahwa ada keterkaitan antara suatu kekuasaan yang sangat berimplikasi terhadap lembaga pendidikan. Para kritikus Mengkritik secara keras akan persoalan pendidikan, pembinaan terhadap manusia, bukan hanya pada komunikasi dan relasi yang terjalin dalam di lingkungan sekolah semata dan bukan hanya pada transfer knowlarge (transformasi pengetahuan), akan tetapi proses penyadasaran diri. Yang sehingga proses kesadaran yang terbangun dalam peserta didik.(Poulo Freire;2007)
Dr. M.Agus Nuryanto (2008) dalam bukunya ”Pendidikan Mazhab Kritis”, persoalan yang terjadi di dunia global hari ini adalah banyak faham yang mendorong masyarakat untuk berfikir matrealisme, yang sehingga kecenderungan orang tua memilki tujuan menyekolahkan anaknya adalah menjadikan anaknya untuk memdapatkan pekerjaan yang layak sebagai orientasi pertama, jadi bukan menjadikan sekolah sebagai proses pendewasaan apalagi memunculkan kesadaran-bahasa. Prof Ahmad Tafsir memanusiakan manusia-pada si anak, hal ini tanpa disadari akan memplot pola pikir anak bahwa sekolah hanya untuk mendapatkan pekerjaan, yang pada akhirnya akan terjadi pemilahan fakultas, mana fakultas yang mengorientasikan kerja mana yang tidak, sebagai contoh kecil, kampus kita mahasiswa banyak sekali berbondong-bondong masuk jurusan Pendidikan ketimbang Filsafat atau Sastra. Sebab pasar kerja pendidikan lebih banyak ketimbang Filsafat ataupun sastrawan.
Bukannya penulis mengatakan bersekolah untuk mendapatkan pekerjaan itu salah akan tetapi tidak di jadikan orientasi kerja dari sekolah. Yang nantinya hemat penulis hal tersebut akan membentuk masyarakat yang matrealis dan berpola fikir kafitalis, manusia-manusia pengekor, bahasa aktifis manusia-manusia ABS (Asala Babeh Seneng).
Ketika problem dalam Manusia pendidikan kita seperti diatas, kiranya penulis mencoba mengkorelasikan antara krisis manusia berpendidikan yang masih kurang tertanamnya nilai-nilai Pancasila, yang sehingga mampu menjaga dan memperbaiki bangsa ini.
Perlunya Pendidikan yang menanamkan Nilai-nilai Pancasila
Pertanyaan pertama mengapa harus nilai-nilai pancasila?, mudah saja jawabannya, sebab Pancasila bagi bangsa Indonesia kiranya telah sepakat sebagai jati diri, kepribadian, falsafah hidup, dan landasan hidup berbangsa dan bernegara. Sehingga dalam dunia pendidikan pancasila selama ini terus menjadi bahan ajar di setiap lembaga pendidikan dari SD sampai Perguruan Tinggi. Yang mana nilai-nilai pancasila akan menjadi pandangan hidup bagi warga indonesia.
Lalu apa saja nilai-nilai pancasila itu?, ada lima nilai pancasila itu, pertama, orang Indonesia harus mempercayai adanya Tuhan yang Esa menurut agamanya masing-masing, maka bangsa indonesia haruslah berfaham Theisme (berfaham ke-Tuhanan), bukan atheis (tidadk bertuhan), maka ketika bangsa indonesia memilki sesuatu yang di percayai secara transenden maka akan memiliki efek domino terhadap sesuatu yang lain, meminjam bahasa Cak Nur, kepercayaan yang benar akan melahirkan tata nilai yang baik terhadap peraban manusia.
Maka nilai ke-imanan terhadap sesuatu yang esa yakni Tuhan ini menurut A.Tafsir (2008;53) akan menjiwai terhadap empat nilai lainnya. kedua, manusia yang adil dan beradab yang berdasarkan keimanan kepada Tuhan yang Esa, ketiga, persatuan indonesia, kempat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan kelima keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
Dalam hal ini Muhamad SAW merupakan contoh kita sebagai sang pembebas kaum lemah, Asgar Ali Enginer (2006;41-42) menjadikan Nabi Muhamad SAW sebagai sang revolusioner dunia, melihat sejarah kondisi sosio-kultur mekah sebelum Nabi Muhamad SAW dilahirkan, apa yang terjadi masyarakat mekah pada waktu itu adalah masyarakat yang buta huruf, masyarakat berasumsi bahwa belajar baca-tulis akan menghabiskan waktu dan bahkan buta huruf menjadi kebanggaan bagi mereka, yang sehingga zaman sebelum datangnya Islam disebut zaman jahiliyah.
Kehidupan relegius bahkan lebih buruk, setiap suku memilki berhala sendiri, para sejarawan menyebutkan kurang lebih dari 360 berhala di letakan di ka’bah, wanita sangat tidak di hargai, mereka secara ekonomi dan sosial sangatlah di batasi, status perkawinan mereka sangatlah buruk hanya di jadikan permainan belaka, bahkan ayat al-Quran menjelaskan ketika bayi perempuan lahir akan di kubur hidup-hidup. Kondisi ekonomi lebih suramnya, kesenjangan golongan masyarakat lemah tidak di hiraukan, perbukan sudah menjadi hal biasa di jaman jahiliah, para buruh di kerja paksa hanya mendapatkan gajih sedikit.
Muhamad lahir dalam kondisi sosial mekah yang sangat buruk sekali, yang sehingga beliau tidak pernah belajar membaca dan menulis sebab kondisi masyarakat seperti itu, dan kemampuan baca-tulis beliau tidak memilki nilai fungsional kecuali untuk urusan dagang dan itupun dikenalkan untuk kebutuhanya dalam berdagang. Beliau mengejutkan mekah pada usia 40 tahun membebaskan masyarakat mekah dan seluruh umat manusia. Pembebasan untuk mengangkat harkat dan martabat manusia serta memberikan kebebasan berfikir dan berbuat. Inilah gambaran ideal yang musti kita contoh, yang menginsfirasi hidup dan memiliki makna tujuan yang jelas, beliau juga berjuang untuk membebaskan kaum tertindas. Prof. A.Tafsir menjelaskan bahwa dari kelima nilai dasar pancasila itu terjiwai dan terwarnai oleh sila yang pertama yang menjadi nilai inti, serta mengarahkan empat nilai yang lainya.
Kita lihat dilapangan, pertanyaannya, Sekarang sejauh mana perhayatan peserta didik terhadap nilai-nilai pancasila? Seberapa jauh siswa memperoleh indikator konkret dari Pancasila?, Paling tidak siswa memahami kaitan bahan ajar di sekolah dengan Pancasila sebagai filsafat pendidikan bangsa Indonesia. Yaitu bagaimana secara rasional bahwa mata pelajaran kewarga-negaraan, pendidikan agama, IPA, IPS, kesenian, olah raga, muatan lokal, dan lain-lain, merupakan hasil elaborasi dari pilihan acuan pendidikan.
Bagaimanapun, untuk menetapkan arah pendidikan, tidak akan lepas dari persoalan tujuan hidup dan maknanya bagi individu dan masyarakat. Oleh karena itu, tujuan hidup masyarakat melekat pada nilai-nilai masyarakat dan perubahannya.
Manusia berpendidikan yang diharapkan oleh Pancasila
Manusia dalam pandangan Nilai-nilai dasar Perjuangan (NDP) HMI, di jelaskan bahwa manusia adalah puncak ciptaan, merupakan mahluk yang tertinggi dan adalah wakil dari Tuhan di bumi. Sesuatu yang membuat manusia yang menjadi manusia bukan hanya beberapa sifat atau kegiatan yang ada padanya, melainkan suatu keseluruhan susunan sebagai sifat-sifat dan kegiatan-kegiatan yang khusus dimiliki manusia saja yaitu Fitrah. Fitrah membuat manusia berkeinginan suci dan secara kodrati cenderung kepada kebenaran (Hanief). hati nurani adalah pemancar keinginan pada kebaikan, kesucian dan kebenaran.
Tujuan hidup manusia ialah kebenaran yang mutlak atau kebenaran yang terakhir, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Fitrah merupakan bentuk keseluruhan tentang diri manusia yang secara asasi dan prinsipil membedakannya dari mahluk-mahluk yang lain. Dengan memenuhi hati nurani, seseorang berada dalam fitrahnya dan menjadi manusia sejati.
Ada keselarasan nilai-nilai pancasila ayat pertama bahwa manusia memilki kecenderungan kepada keberan mutlak kepada Tuhan yang maha Esa, yang dimana tujuan pendidikan adalah manusia yang baik, manusia yang baik akan meciptakan masyarakat yang baik dalam kehidupan, masyarakat yang baik adalah masyarakat pada zaman Rasullah SAW, yaitu masyarakat Madani.
Masyarakat madani adalah masyarakat kota, masyarakat yang mengenal hukum dan taat hukum, Prof Ahmad Tafsir mengatakan bahwa yang diperlukan untuk mewujudkan masyarakat madani yaitu adanya hukum yang mengatur masyarakat manusia yang sesuai dengan kemanusiaannya, hukum itu di taati dan adanya penegak hukum.
Melihat poiter-pointer nilai pancasila penulis mengambil kesimpulan bahwa masnusia berpendidikan yang diharapkan oleh pancasila adalah manusia yang memilki kesadaran dalam membangun masyarakat baik, manusia yang memilki berwatak keillahian secara fitrah kemanusiaan, manusia yang menerima pluralitas masyarakat, manusia yang demokratis, manusia yang memiliki jiwa sosial yang tinggi terhadap kaum lemah, manusia yang vionir, manusia yang memilki aktivitas berjuang dalam membebaskan pendindasan. Maka bersamaan dengan ini manusia yang di harapkan oleh pancasila adalah manusia yang paripurna atau insan kamil
Hemat penulis Pancasila sebagai filsafat pendidikan bangsa harus menampakkan diri sebagai indikator karakteristik mentalitas bangsa Indonesia. Yang sehingga bisa terwujud dalam mental pesrta didik (lulusan pendidikan), termasuk tujuan pendidikan yang dielaborasi menjadi tujuan Institusional, tujuan Kurikuler, dan tujuan Instruksional.
Pertanian dan Paradoks Beras Miskin Dalam Perspektif Praksiologi
Beras Bulog
Setiap pulang kampung, saya terkadang disuruh ibunda tercinta untuk mengambil jatah beras miskin di Balai Desa. Barangkali karena administratur desa mengkategorikan kami sebagai keluarga miskin, jadi kami mendapat jatah beras miskin. Saat mengambil jatah beberapa waktu lalu, di jalanan sambil naik sepeda, saya bertanya-tanya. “Bukankah bapak saya petani dan punya beras sendiri? Mengapa kami dikasih beras miskin? Memangnya pemerintah lagi panen padi, kok ngasih beras murah?”
Itulah paradoks. Situasi dikatakan paradoks ketika sesuatu itu dianggap benar dia mengandung kesalahan, juga ketika dianggap salah, dia mengandung kebenaran. Artinya, pengertian tersebut saling bertentangan. Kenyataan bahwa kami dikasih beras miskin dengan alasan kami miskin bisa jadi merupakan alasan yang benar, tapi bisa juga keliru karena kami petani yang notabene punya beras sendiri.
Antonim dari istilah kemiskinan ialah kesejahteraan. Di seantero jagad, pemaknaan terhadap kesejahteraan berbeda-beda dalam setiap wilayah. Di Afrika, khususnya Nigeria, orang dikatakan makmur ketika memiliki banyak hewan ternak. Sedangkan di Swedia, orang dikatakan sejahtera ketika memiliki banyak waktu senggang untuk keluarga—dengan syarat sudah memiliki pendapatan yang cukup bagi kehidupan sehari-hari. Di Amerika, orang dikatakan kaya jika memiliki banyak duit. Sedangkan di India, orang cukup memiliki perasaan bahagia itu sudah dianggap sejahtera. Berbeda lagi dengan masyarakat Iban di Malaysia, orang dikatakan sejahtera bila hasil panen padi melimpah ruah. Dengan demikian, dalam ukuran kesejahteraan di berbagai belahan dunia itu berbeda-beda. Tergantung pada persepsi budaya masing-masing.
Lalu apa yang menjadi acuan bagi pengertian kesejahteraan yang didefinisikan pemerintah kita? Barangkali ini yang menjadi alasan mengapa kita dikasih beras miskin, karena sehari-hari kita makan nasi. Saya menyebutnya sebagai pandangan populer.
Petani sebagai Komoditas Politik
Semenjak negara ini mengenal politik, semua permasalahan dilihat dari sudut pandang politik. Termasuk agen-agen politik, dari aparatur desa, pemerintahan kabupaten, pemerintah pusat serta lembaga-lembaga yang mengatasnamakan persatuan organisasi petani—walaupun petani tidak pernah mengenal mereka. Semuanya “menjual” nama petani untuk mendapatkan isu yang bisa jadi alat ampuh untuk meraih popularitas, yang ujung-ujungnya bagi usaha meraih kekuasaan.
Mari mencoba merefleksi, sebenarnya apa solusi permasalahan pangan kita? Bukankah sumber daya alam kita sangat subur, karena berada di daerah vulkan yang sangat sesuai untuk lahan pertanian? Bukankah jumlah masyarakat petani kita cukup banyak? Bukankah, tidak seperti di wilayah lain di dunia, sawah kita bisa menghasilkan panen per tiga bulan atau satu tahun bisa tiga kali panen?
Yang menjadi awal mula isu pangan menjadi heboh, ialah terkait proses alamiah dari kenaikan harga-harga beras. Harga beras naik itu, biasanya, berhubungan penurunan stok, seperti terkondisi oleh belum datangnya musim panen, dan lain hal. Penurunan stok beras di pasar menyebabkan harga beras sedikit naik. Apabila hal tersebut diserahkan secara alamiah kepada mekanisme pasar, dalam waktu dekat toh harga beras akan kembali normal seiring dengan kenaikan stok, misalnya dengan datangnya musim panen yang di berbagai tempat dan waktu di seluruh pulau Jawa sangat bervariasi. Apalagi bila hal itu dibandingkan dengan seluruh kawasan di Indonesia.
Kalaupun ada kenaikan permintaan terhadap beras yang menyebabkan harga naik, setidaknya ada dua kemungkinan. Pertama, karena adanya pertambahan penduduk secara pesat, sehingga menyebabkan permintaan beras menjadi lebih banyak. Yang kedua, disebabkan oleh permintaan oleh tengkulak yang berharap menimbun beras.
Bagi kemungkinan pertama, untuk jaman sekarang, saya kira pengaruhnya tidak terlalu signifikan dikarenakan sudah banyak keluarga yang ikut program KB, dan apabila ada pertumbuhan penduduk yang rata-rata 1-2% per tahun. Bukanlah lahan di luar jawa masih banyak yang belum tergarap? Atau, bukankah hasil penelitian terbaru mengenai benih unggul yang dapat memperpendek masa tanam?, atau apakah benar jumlah penduduk semakin bertambah, kalau demikian, lihat saja piramida penduduk Amerika ataupun Rusia yang menunjukkan penurunan?, toh kalau mentok, masih banyak kemungkinan adanya diversifikasi bahan makanan, karena kita mempunyai ikan dilaut yang belum dapat dimanfaatkan secara optimal untuk alternatif pengganti makanan pokok selain beras.
Bagi kemungkinan kedua, hanya pengusaha atau spekulan beras yang kurang pengalaman saja yang menyimpan beras atau gabah berlama-lama. Karena fluktuasi harga beras yang tidak pasti, kemungkinan spekulan tidak mau mengambil resiko menyimpan beras terlalu lama. Saya sering mendapat pengalaman memiliki tetangga spekulan yang sering mengeluh karena sebelumnya saat membeli beras harganya tinggi tapi setelah beberapa saat harganya turun. Sehingga beliau mengalami kerugian. Jadi seandainya ada anggapan bahwa penimbun selalu untung, itu hanya orang yang tidak pernah menjadi spekulan. Karena spekulan juga tidak tahu pasti mengenai masa depan akan fluktuasi harga beras.
Dengan demikian, sangat tidak beralasan bahwa reaksi-reaksi yang disebabkan oleh fluktuasi harga beras membuat kita khawatir serta takut akan kekurangan pangan. Seandainya ini terlalu dibesar-besarkan, bukan tidak mungkin akan menjadi isu yang seksi bagi politisi maupun pemerintah untuk mengambil kebijakan yang bisa jadi merugikan petani. Walaupun hal tersebut didasarkan dengan niat baik ataupun untuk mencari popularitas. Dengan demikian akan mempermudah politisi untuk bersilat lidah demi keuntungan dirinya sendiri.
Setiap pulang kampung, saya terkadang disuruh ibunda tercinta untuk mengambil jatah beras miskin di Balai Desa. Barangkali karena administratur desa mengkategorikan kami sebagai keluarga miskin, jadi kami mendapat jatah beras miskin. Saat mengambil jatah beberapa waktu lalu, di jalanan sambil naik sepeda, saya bertanya-tanya. “Bukankah bapak saya petani dan punya beras sendiri? Mengapa kami dikasih beras miskin? Memangnya pemerintah lagi panen padi, kok ngasih beras murah?”
Itulah paradoks. Situasi dikatakan paradoks ketika sesuatu itu dianggap benar dia mengandung kesalahan, juga ketika dianggap salah, dia mengandung kebenaran. Artinya, pengertian tersebut saling bertentangan. Kenyataan bahwa kami dikasih beras miskin dengan alasan kami miskin bisa jadi merupakan alasan yang benar, tapi bisa juga keliru karena kami petani yang notabene punya beras sendiri.
Antonim dari istilah kemiskinan ialah kesejahteraan. Di seantero jagad, pemaknaan terhadap kesejahteraan berbeda-beda dalam setiap wilayah. Di Afrika, khususnya Nigeria, orang dikatakan makmur ketika memiliki banyak hewan ternak. Sedangkan di Swedia, orang dikatakan sejahtera ketika memiliki banyak waktu senggang untuk keluarga—dengan syarat sudah memiliki pendapatan yang cukup bagi kehidupan sehari-hari. Di Amerika, orang dikatakan kaya jika memiliki banyak duit. Sedangkan di India, orang cukup memiliki perasaan bahagia itu sudah dianggap sejahtera. Berbeda lagi dengan masyarakat Iban di Malaysia, orang dikatakan sejahtera bila hasil panen padi melimpah ruah. Dengan demikian, dalam ukuran kesejahteraan di berbagai belahan dunia itu berbeda-beda. Tergantung pada persepsi budaya masing-masing.
Lalu apa yang menjadi acuan bagi pengertian kesejahteraan yang didefinisikan pemerintah kita? Barangkali ini yang menjadi alasan mengapa kita dikasih beras miskin, karena sehari-hari kita makan nasi. Saya menyebutnya sebagai pandangan populer.
Petani sebagai Komoditas Politik
Semenjak negara ini mengenal politik, semua permasalahan dilihat dari sudut pandang politik. Termasuk agen-agen politik, dari aparatur desa, pemerintahan kabupaten, pemerintah pusat serta lembaga-lembaga yang mengatasnamakan persatuan organisasi petani—walaupun petani tidak pernah mengenal mereka. Semuanya “menjual” nama petani untuk mendapatkan isu yang bisa jadi alat ampuh untuk meraih popularitas, yang ujung-ujungnya bagi usaha meraih kekuasaan.
Mari mencoba merefleksi, sebenarnya apa solusi permasalahan pangan kita? Bukankah sumber daya alam kita sangat subur, karena berada di daerah vulkan yang sangat sesuai untuk lahan pertanian? Bukankah jumlah masyarakat petani kita cukup banyak? Bukankah, tidak seperti di wilayah lain di dunia, sawah kita bisa menghasilkan panen per tiga bulan atau satu tahun bisa tiga kali panen?
Yang menjadi awal mula isu pangan menjadi heboh, ialah terkait proses alamiah dari kenaikan harga-harga beras. Harga beras naik itu, biasanya, berhubungan penurunan stok, seperti terkondisi oleh belum datangnya musim panen, dan lain hal. Penurunan stok beras di pasar menyebabkan harga beras sedikit naik. Apabila hal tersebut diserahkan secara alamiah kepada mekanisme pasar, dalam waktu dekat toh harga beras akan kembali normal seiring dengan kenaikan stok, misalnya dengan datangnya musim panen yang di berbagai tempat dan waktu di seluruh pulau Jawa sangat bervariasi. Apalagi bila hal itu dibandingkan dengan seluruh kawasan di Indonesia.
Kalaupun ada kenaikan permintaan terhadap beras yang menyebabkan harga naik, setidaknya ada dua kemungkinan. Pertama, karena adanya pertambahan penduduk secara pesat, sehingga menyebabkan permintaan beras menjadi lebih banyak. Yang kedua, disebabkan oleh permintaan oleh tengkulak yang berharap menimbun beras.
Bagi kemungkinan pertama, untuk jaman sekarang, saya kira pengaruhnya tidak terlalu signifikan dikarenakan sudah banyak keluarga yang ikut program KB, dan apabila ada pertumbuhan penduduk yang rata-rata 1-2% per tahun. Bukanlah lahan di luar jawa masih banyak yang belum tergarap? Atau, bukankah hasil penelitian terbaru mengenai benih unggul yang dapat memperpendek masa tanam?, atau apakah benar jumlah penduduk semakin bertambah, kalau demikian, lihat saja piramida penduduk Amerika ataupun Rusia yang menunjukkan penurunan?, toh kalau mentok, masih banyak kemungkinan adanya diversifikasi bahan makanan, karena kita mempunyai ikan dilaut yang belum dapat dimanfaatkan secara optimal untuk alternatif pengganti makanan pokok selain beras.
Bagi kemungkinan kedua, hanya pengusaha atau spekulan beras yang kurang pengalaman saja yang menyimpan beras atau gabah berlama-lama. Karena fluktuasi harga beras yang tidak pasti, kemungkinan spekulan tidak mau mengambil resiko menyimpan beras terlalu lama. Saya sering mendapat pengalaman memiliki tetangga spekulan yang sering mengeluh karena sebelumnya saat membeli beras harganya tinggi tapi setelah beberapa saat harganya turun. Sehingga beliau mengalami kerugian. Jadi seandainya ada anggapan bahwa penimbun selalu untung, itu hanya orang yang tidak pernah menjadi spekulan. Karena spekulan juga tidak tahu pasti mengenai masa depan akan fluktuasi harga beras.
Dengan demikian, sangat tidak beralasan bahwa reaksi-reaksi yang disebabkan oleh fluktuasi harga beras membuat kita khawatir serta takut akan kekurangan pangan. Seandainya ini terlalu dibesar-besarkan, bukan tidak mungkin akan menjadi isu yang seksi bagi politisi maupun pemerintah untuk mengambil kebijakan yang bisa jadi merugikan petani. Walaupun hal tersebut didasarkan dengan niat baik ataupun untuk mencari popularitas. Dengan demikian akan mempermudah politisi untuk bersilat lidah demi keuntungan dirinya sendiri.
Langganan:
Komentar (Atom)